Kala Senja


Hey senja, masih tak kutemui rona jingga.
Langitmu masih kelabu…
Ku tak memaksa bertemu jingga.
Setidaknya kau sampaikan rindu…

Iya, hari ini langit tertutup awan kelabu. Hujan mungkin akan datang sebentar lagi. Aku masih betah duduk dibangku kayu warung simpang jalan. Memandang mobil hilir mudik memuntahkan asap seenak hatinya. Tidak perduli aku dan penjaga warung ini akan kena asap dan debu setelahnya.

Aku juga sepertinya sudah mulai terbiasa dan membiasakan diriku bergumul dengan asap dan debu. Entah ini menit keberapa sejak aku menaruh pantat di kursi kayu warung simpang jalan. Pantatku sudah mulai nyaman juga pada akhirnya. Kopi setengah penuh di gelas aku mainkan mengusir bosan. Mungkin bisa batang kesekian rokok aku nyalakan. Untungnya aku sudah tidak merokok lagi. Bersyukur untuk itu. Terimakasih Tuhan.

Kemana gerangan sang pemilik warung. Aku tidak melihatnya sejak 10 menit yang lalu. Apakah dia bosan memandangku dengan cuma segelas kopi pesanan yang tidak segera kuhabiskan. Aku suka berlama-lama menghabiskan kopi walau segelas kecil. Buatku, minum kopi bisa jadi semacam ritual. Dilakukan secara perlahan penuh penghayatan. Aku tidak ingin cepat selesai begitu saja. Harus ada ketenangan disetiap tegukan.

Kamu suka minum kopi juga kah kawan?

DSC_0067