Naik Gunung dan Filosofi Hidup


Pagi kubuka pintu tenda. Tepat didepanku telah kokoh berdiri gunung merapi. Mentari sudah hadir sedari tadi saat aku masih terlelap dengan mimpi. Lewat tengah malam aku sampai di Sabana 1 gunung merbabu. Diperjalanan aku bertemu seorang perempuan yang sudah mulai tak sadarkan diri karena terkena hypothermia. Beruntung baginya karena aku punya sebuah emergency blanket yang selalu aku bawa ketika mendaki. Sedih ketika aku bertanya kepada teman-teman pendaki yang ikut bersamanya karena ternyata mereka tidak tahu bahwa temannya terkena hypothermia. Mendaki gunung memang bukan cuma tentang naik dan turun. Tapi juga tentang persiapan dan perencanaan matang menurutku.

Merapi view from Merbabu

.

Sepulang dari mendaki Gunung Merbabu dan bertemu beberapa temen pendaki, jadi teringat artikel lama di sebuah majalah yang biasa aku baca. Ada penggalan kalimat di artikel itu yang aku ingat. Berikut penggalan kalimat tersebut :

“Ada pertanyaan remeh yang sering ditanyakan kepada para pendaki gunung. Mengapa harus mendaki susah-payah sampai puncak apabila nantinya turun lagi? Yang bertanya mungkin perlu mengkaji filosofi hidupnya sendiri.

Mendaki gunung dan kemudian turun lagi itu mencerminkan perjalanan umum manusia : kita lahir, mencapai puncak usia dan turun ke haribaan illahi.
Mendaki gunung menjadi semacam simulasi kehidupan ketika kita berjuang bukan mengatasi tingginya pendakian atau curamnya tebing, melainkan mengatasi diri kita sendiri. Saat itulah, pada titik-titik ekstrem kelelahan, kita tahu batas keberadaan didunia. Saat turun dengan selamat, kita membawa diri yang baru, karena telah menemukannya kembali saat tiba di puncak.” – Tantyo Bangun