Calon Bupati? (Part-1)


Antara percaya dan tidak, baru saja aku mendengar kalimat : “oh yang calon Bupati?” dari seorang perempuan yang duduk dibelakang tepat aku berdiri. Seketika itu juga aku langsung menoleh memastikan bahwa kalimat itu benar-benar ada yang baru saja mengucap. Sambil merapikan isi tas aku mengangguk dan melihat ekspresi temanku yang sedikit tidak percaya.

***


Tengah hari aku sampai di rumah salah satu teman di Ende. Teman ini terkenal sekali di Ende. Mungkin ada yang kenal juga, dia biasa dipanggil Encim Tuteh. Kabupaten Ende adalah salah satu kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan luas 2.046,59 Km2 (204.660 Ha) dan populasi penduduk tahun 2009 sebanyak 258.658 jiwa (Registrasi penduduk BPS 2010). Secara geografis Kabupaten Ende memiliki letak yang cukup strategis yaitu dibagian tengah Pulau Flores yang diapit oleh empat Kabupaten di bagian barat : Nagekeo, Ngada, Manggarai, dan Manggarai Barat, sedangkan dibagian timur dengan dua Kabupaten yakni : Kabupaten Sikka dan Kabupaten Flores Timur.

Siang hari cuaca di Ende cukup panas, saat malam lumayan dingin. Karena belum mandi dari pagi, selesai makan siang mandi dulu biar seger. Rencananya sehabis mandi mau diajak jalan-jalan sama Tuteh empunya yang punya rumah. Aku makin semangat buat mandi. Biasanya juga semangat kok mandinya😀. Oke, ternyata setelah mandi aku diajak ke situs rumah pengasingan Bung Karno.

situsBK

Memasuki pintu masuk utama, kita akan langsung disambut dengan koleksi peninggalan barang-barang Bung Karno selama diasingkan di Ende. Beberapa barang pribadi yang masih terjaga kondisinya.

Ruang Utama

Masuk kedalam lagi, terdapat dua kamar tidur di sisi kanan dan kiri. Didalam kamar terdapat ranjang jaman dahulu lengkap dengan kelambu warna putih yang masih terjaga sangat baik.

kamar tidur

Dihalaman belakang kita bisa menjumpai sebuah sumur dan beberapa kamar. Sumur yang terjaga masih digunakan mengambil air sampai sekarang. Beberapa pengunjung sesekali menimba air sekedar untuk membasuh muka dan tangan mereka.

belakang rumah

halaman belakang

Merujuk pada sebuah Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tertanggal 28 Desember 1933 membuat Bung Karno yang saat itu berusia 35 tahun harus menjalani hukuman pembuangan sebagai tahanan politik di Ende. Di rumah pengasingan ini, Sang Proklamator bersama istrinya Inggit Ganarsih, mertuanya Ibu Amsih, dan dua anak angkatnya Ratna dan Kartika, menghabiskan waktu mereka sebagai tahanan politik.

Tak jauh dari rumah pengasingan, ada lapangan yang lokasinya kurang lebih 100 meter dari Rumah Pengasingan Bung Karno. Lapangan Perse namanya, sekarang dinamakan Lapangan Pancasila. Dilapangan Perse ( Lapangan Pancasila) terdapat sebuah pohon sukun. Pohon tersebut dianggap keramat oleh sebagian masyarakat dan lebih dikenal sebagai Pohon Pancasila. Kenapa dinamai demikian, konon menurut cerita masyarakat, saat hari panas maka Bung Karno sering duduk berteduh di bawah pohon sukun tersebut sambil memandangi daun sukun yang bergigi lima buah dan bersudut lima pada setiap sisinya. Di bawah pohon itulah Bung Karno merenungkan dasar negara Indonesia yang kelak menjadi Pancasila. Tidaklah salah apabila Ende disebut sebagai Rahim Pancasila. Ende telah memberi pengaruh besar bagi Bung Karno, terutama kerukunan hidup antarumat beragama di Ende.

Saat berkunjung ke lapangan dan ingin sekedar melihat penampakan pohon sukun, ternyata sedang dilakukan perbaikan. Jadi aku hanya bisa memandangi pohon dari kejauhan.

Hari sudah senja, tak lengkap rasanya jika melewatkan senja hanya diam saja. Tuteh kemudian mengajak kongkow di pantai Ria sekedar sharing dan ngobrol santai dengan beberapa teman-teman blogger Flobamora. Saatnya menikamati senja pantai ria Ende.

Berlanjut nanti…:mrgreen: