Mudik 2013


Dipintu keluar bandara sudah berjejal para penjemput penumpang. Tetiba berharap ada satu diantara mereka yang mengenalku saat ini. Melambaikan tangan kemudian menebar senyuman. Entah suatu saat aku akan ditunggu seperti ini. Kerumunan orang yang aku kenal, yang selalu menunggu waktu aku kembali pulang. Dengan setia mereka menunggu saat-saat aku datang. Menyambut layaknya pemenang diantara ratusan atau bahkan ribuan orang pulang setelah berperang. Dendang lagu float – pulang dari ipod menemaniku melewati kerumunan.

Tawaran supir taksi aku abaikan. Aku memilih jalan kaki keluar dan naik angkot. Tidak terlalu jauh juga, sekalian menggerakkan anggota badan yang sedikit kaku karena hampir satu jam hanya duduk dikursi pesawat. Aku beruntung hanya duduk dikursi kurang lebih satu jam saja. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana teman-temanku yang pulang mudik naik bus dan harus memakan waktu puluhan jam sebelum sampai dikotanya. Mereka sudah pasti tersiksa dikursi bus puluhan jam itu. Semoga mereka selamat sampai rumah dan bertemu dengan keluarganya.

***

Bapak supir angkot warna orange mempersilahkan aku turun. Tujuanku sudah sampai, begitu katanya. Benar saja, turun dari angkot aku lihat bangunan kuno berdiri megah. Halamannya tampak rapi, cat yang dulu kusam tidak terlihat lagi. Aku ingat, terakhir aku ketempat ini sekitar tahun 2008. Lawang Sewu, begitulah orang sering menyebutnya. Bangunan kokoh dengan banyak pintu didalamnya bekas peninggalan Belanda.

lawang sewu 1

Terakhir ketempat ini masih terlihat banyak cat kusam yang mengelupas dibeberapa bagian bangunan. Tapi lihat sekarang, bangunan megah dengan perpaduan cat putih dan orange serta aksen hitam disudut bangunan menambah megah bangunan kuno ini.

lawang sewu 2

Halamannya juga tidak kalah mengejutkanku. Rumput hijau halaman taman disekeliling bangunan nampak serasi sekali. Tidak terlalu mencolok dengan banyak tumbuhan. Tampil menawan dikesederhanaan taman.

lawang sewu 3

***

Dua anggota TNI sedang asik berbincang. Aku meminta ijin untuk memasuki ruangan. Mereka mempersilahkan aku menunggu, karena penjaga yang hari itu piket sedang memandu seseorang dari media. Aku tidak banyak bertanya, aku kemudian duduk dibangku panjang sambil meletakkan tas yang sedari tadi menempel dipunggung.  Tidak lama berselang bapak penjaga yang dimaksut pun datang, aku segera meminta ijin melihat koleksi museum sembari menanyakan apakah diperbolehkan mengambil gambar (foto). Kenapa aku meminta ijin mengambil gambar, karena dibeberapa tempat yang aku kunjungi tidak diperkenankan mengambil gambar walaupun ditempat yang aku kunjungi itu aku tidak melihat ada tulisan larangan mengambil gambar. Semenjak itu aku telah membiasakan diri meminta ijin ke penjaga tempat yang aku kunjungi apakah boleh mengambil gambar atau tidak. Sudah menjadi kebiasaan sampai sekarang. Letak tempat ini hanya berseberangan dengan Lawang Sewu.

mandala bhakti

Dari pintu masuk utama sudah menyambut deretan anak tangga menuju lantai 2. Tapi penjelajahan museum dimulai dari lantai 1 atau bawah. Baru nanti memutar kemudian baru ke atas menuju lantai 2.

tangga menuju lantai 2

Memasuki ruang satu menuju ruang yang lain terdapat tanda panah (penunjuk). Tanda ini semacam urutan atau alur informasi dari museum. Kita kemungkinan kecil tersesat didalam. Kalaupun tersesat, kita akan mudah keluar juga. Ruang satu menuju ruang lain mempunyai semacam jalan tembus. Jadi bisa saja kita langsung masuk menuju ruang yang lain tanpa harus mengikuti petunjuk yang ada.

Bangunan museum ini dulunya adalah kantor pengadilan tinggi Belanda yang dibangun pada tahun 1906. Kemudian diambil alih oleh Jepang dan digunakan sebagai kantor polisi militer. Setelah itu berhasil diambil alih oleh pejuang Indonesia pada saat terjadi pertempuran 5 hari di Semarang  tanggal 15 sampai 19 oktober 1945. Semenjak itu bangunan ini dialih fungsikan menjadi museum TNI oleh pemerintah Indonesia.

radio jadul

Museum ini memajang koleksi senjata berikut amunisi jaman perjuangan dan setelahnya. Didalamnya juga memajang informasi tentang perjuangan TNI menumpas pemberontakan dibeberapa daerah di Indonesia tidak hanya yang ada di semarang dan sekitarnya. Jadi museum ini semacam rekam jejak TNI dari masa awal-awal berdiri, apa saja senjata yang digunakan, atribut yang mereka gunakan serta perubahan struktur yang terjadi di tubuh TNI sebelum akhirnya pisah dengan Polri.

kendaraan perang

Dilantai 2 tepat di ujung tengah-tengah tangga, terdapat patung kepala setengah badan Panglima Besar jenderal Soedirman. Aku lupa menanyakan apa dan kenapa hanya patung beliau yang ada dimuseum ini dan ditempatkan tepat di tengah-tengah jalan di ujung tangga menuju lantai 2.

jenderal soedirman

Lantai 2 museum terdapat diorama peristiwa tahun 1965. Dilantai ini terdapat koleksi alat musik militer, alat praktek kedokteran militer dan ada juga koleksi barang sitaan masa perjuangan diantaranya adalah barang-barang yang dipakai anggota PKI dan sebagainya.

museum mandala bhakti

***

Dan pada akhirnya pulang kerumah adalah hal yang paling kita tunggu. Bertemu sanak keluarga, mengeratkan kembali silaturahmi dan untuk saat ini kembali bertemu mereka.

Ponakan

dan lalu…
rasa itu tak mungkin lagi kini
tersimpan dihati
bawa aku pulang, bersamamu.

dan lalu… 
air mata tak mungkin lagi kini
bicara tentang rasa
bawa aku pulang, sekarang.
jelajahi waktu ketempat berteduh hati kala biru

*Nowplaying Float – Pulang*