Odalan Mei


senyum

“Senyum manis dan malu-malu gadis kecil ini begitu tulus. Duduk diantara anggota keluarga yang sedang khusuk beribadah. Sesekali dia menengok kekanan-kekiri, kedepan dan kebelakang. Saat kamera aku arahkan, dia hanya bergeming. Tidak sepatah kata keluar dari mulut mungilnya.”

Kami bertiga berjalan kaki menyusuri jalan aspal sekitar 1 Km. Kami asik ngobrol sepanjang jalan sampai tidak sadar sudah sampai tujuan. Pintu masuk ramai dengan pernak-pernik acara seperti lengkungan janur kuning dan umbul-umbul / bendera. Orang-orang dengan dandanan khas memasuki kawasan pura membawa sesaji dan seserahan. Karena berada di kaki gunung, tempat ini tetap sejuk saat siang hari.

Kami melangkah masuk mengikuti salah satu rombongan yang membawa sesaji. Tiba di satu sudut bangunan kami meminta izin memasuki pura sembari menanyakan apakah diperbolehkan mengambil gambar/meliput prosesi. Dengan ramah, ibu-bapak penjaga atau mungkin panitia mengizinkan kami masuk dan memperbolehkan mengambil gambar. Tentu dengan syarat tidak mengganggu prosesi acara dan orang-orang yang sedang melakukan ibadah.

Pura 1

Diujung deretan tangga dari batu kami melepas alas kaki. Menaruhnya di sebuah rak yang telah disediakan. Disana telah berjejer beraneka ragam alas kaki. Dari mulai sepatu, sandal dan sejenisnya. Kurang begitu faham kenapa orang-orang disini melepas alas kaki mereka. Padahal setelah tangga hanya ada pelataran dari tanah. Bukan karpet merah atau lantai keramik putih bersih. Tapi kali ini tidak akan membahas hal tersebut. Kami melangkah memasuki pelataran yang sudah sedikit penuh dengan orang lalu lalang.

Hari ini kami mendatangi tempat ini untuk melihat prosesi odalan. Odalan adalah ulang tahun pura yang diadakan satu tahun sekali. Di pura ini kebetulan setiap tahun diadakan acara semacam perayaan dan untuk Pura Jagatkarta diadakan pada bulan Mei. Oh iya, Pura Agung Parahyangan Jagatkarta ini adalah pura terbesar di Jawa Barat.

Di odalan ini ada serangkaian acara atau prosesi yang dilaksanakan. Dimulai dari upacara Ngebejian. Ngebejian ini ritual sebagai simbolisasi membersihkan Pura.
Berdoa 1
Berdoa 2
Air yang digunakan adalah air yang diambil satu hari sebelumnya dari mata air gunung Salak. Prosesi berikutnya Mecaru. Mecaru ini dimaksudkan untuk mengharmonisasikan hubungan manusia dengan lingkungan/alam. Setelah itu diakhiri dengan Tarian Jauk. Ketika Tarian Jauk telah dilakukan, berarti prosesi telah usai dan pulanglah makhluk-makhluk gaib yang negatif dan berubahlah menjadi baik serta manusia dan lingkungan menjadi aman, tentram, damai, jauh dari bencana.

Tarian 1

Menarik sekali banyak orang-orang Bali yang datang hadir larut dalam acara odalan. Mereka datang membawa alat musik dan melantunkan musik mengiringi serangkaian prosesi. Sementara yang lain juga datang untuk meramaikan prosesi sambil beribadah di pura. Aku tidak tahu pasti mereka masih tinggal di Bali atau orang keturunan Bali yang saat ini tinggal di seputaran Jakarta dan Bogor.

Pura 2

Setelah prosesi usai, kami berjalan kebawah dan berencana pulang. Seorang lelaki menahan kami. Kami diajak ke sebuah ruangan semacam dapur umum. Disana sudah tersedia makan dan minuman. Beberapa orang lalu lalang mengambil makan dan minum. Kami dipersilahkan mengambil makanan dan minuman. Pertama-tama kami menolak. Entah mengapa, sebelum saya mengutarakan alasannya. Lelaki itu bilang, ini ayam dan halal kok. Disini tidak masak daging. Sempat kami saling memandang satu sama lain mendengar kalimat yang diucapkan lelaki tadi. Sedetik kemudian kami seperti cekatan dan sudah begitu hafal tempat itu. Waktu juga sudah lewat diwaktu makan siang. Perut yang mulai belajar bicara dengan mengeluarkan suara-suara anehnya. Hahaha, perut lapar sepertinya.

Hari itu ditutup dengan makan bersama saudara-saudara umat Hindhu yang baru saja aku temui di Pura. Kita duduk berdampingan, menikmati kudapan dibawah kaki Gunung Salak sambil sesekali melempar percakapan.

Terimakasih Tuhan Kau ciptakan keberagaman…