Dieng 18 April


Kopi hitam

“Berteman segelas kopi hitam dimeja
Putar musik pemecah sunyi
Gerimis masih belum ingin berhenti”

Jam 5 sore 17 April 2013 bus Dieng Indah meninggalkan terminal Poris Plawad menuju Wonosobo. Bertarif 90rb satu orang, selimut dan bantal menemani selama perjalanan.

Jam 10 pagi waktu kota Wonosobo yang mulai dingin, aku melangkahkan kaki melewati trotoar. Menggerakkan badan menghilangkan kekakuan. Obrolan santai bersama ibu penumpang bus Dieng Indah yang juga searah tujuannya denganku membuat suasana menghangat.

Ya, tanpa pelukan. Obrolan sederhana, ramah tamah dengan orang baru kadang jadi obat ampuh penghangat suasana. Ibu ini ternyata juga bekerja di seputaran Jakarta. Kali ini dia pulang ke kampung halamannya di Dieng tidak lama. Biasanya dia bisa sebulan penuh di kampung. Tetapi kali ini berbeda, dia sudah diwanti-wanti untuk segera kembali ke ibukota untuk bekerja.

Setelah menyusuri lorong gang pasar, sampailah di tempat bus tujuan Dieng mangkal. Bus kecil yang hanya muat sekitar 20an orang sudah siap sedia didepan sebuah toko kelontong. Kernetnya masih sibuk mencari penumpang kesana kemari. Bus ini tidak akan jalan kalau penumpangnya dirasa belum penuh oleh sang supir. Maka mondar-mandir lah sang kernet mencari penumpang. Aku duduk di bangku berdua bersama ibu yang sedari tadi aku ajak bicara. Kita masih terlibat obrolan tentang keseharian.