Hati – hati di jalan


Diperbincangan dengan bapak penjual koran dia berujar :
”orang sekarang bisa melakukan apa saja. Buat kita sendiri yang penting berbuat baik.”

Malam baru saja datang menggantikan senja. Aku masih belum tahu akan melanjutkan perjalanan ini kemana. Aku melewatkan sore dengan jalan kaki melewati sejumlah pertokoan di Jakarta. Ketika hari sudah mulai senja aku mulai bergegas meninggalkan ibukota.

Di depan halte bus disebelah pedagang kakilima aku duduk melepas lelah sembari melihat sekitar. Jakarta masih macet seperti biasa. Laju kendaraan lalu lalang dengan segala kebisingan.

Warna orange bajaj yang mulai memudar catnya dan bercampur polusi tiba-tiba berhenti didepanku. Seorang bapak dibalik kemudi membasuh peluh. Entah panas atau capek karena seharian mencari penumpang. Diremang malam aku mencoba melihat wajahnya. Samar yang kulihat, dia tidak bergeming dari balik kemudi. Ah sudahlah.

bajaj

Bus kota menurunkan dan menaikkan penumpang dari halte dekat aku duduk sekarang. Lelaki tengah baya dengan rokok ditangan masih terlihat begitu bersemangat menawarkan dagangan ditangan. Mukanya lusuh tertampar debu dan polusi entah dari pagi atau siang hari. Aku hanya melihat semangatnya. Beruntunglah orang yang mencari rejeki dijalan yang halal, ucapku dalam hati.

Aku menunggu dia menawarkan koran atau berjalan dihadapanku. Ternyata dia hanya berjalan didepanku tanpa menawarkan koran itu. Aku tidak mau menunggu, aku bertanya tentang arah dan waktu. Percakapan dua orang yang tak saling kenal pun terjadi.

Obrolan santai kali ini harus terhenti karena aku harus melanjutkan perjalanan dan dia masih harus menghabiskan dagangan. Diujung perbincangan aku diingatkan untuk selalu hati-hati dijalan.

Waktu pun berlalu…