Berfikir Masa Depan


“Bukan tentang mimpi dan angan-angan kedepan. Bukan tentang hayalan tingkat tinggi akan kehidupan. Mungkin bagaimana esok aku bisa bertahan dan bersahabat dengan kehidupan.”

Berencana naik kereta bisnis dengan harga yang lebih murah. Tapi sesampainya di stasiun hanya menyisakan tiket kelas executive. Sudah tidak ada opsi menggunakan angkutan umum lain. Waktu juga tidak banyak untuk perjalanan kali ini. Dua tiket kereta executive berpindah tangan dalam hitungan detik tanpa ada tawar menawar.

Kereta berjalan tanpa perlu tahu isi perutku. Ah, kereta ini tidak mau sedikit saja bernegosiasi denganku. Perutku masih belum aku isi makanan dari pagi.

Sesampainya di stasiun tujuan, aku langsung menuju sebuah warung yang menjajakan makanan. Perut sudah tidak mau kompromi perlu diisi. Setelah kenyang, aku menyusuri jalan sambil mengamati keadaan sekitar. Kamera yang sedari tadi berada dalam tas seakan tidak sabar membidik kegiatan selama perjalanan. Dan benar saja, tidak lama aku berjalan ada sebuah bangunan yang cukup menarik perhatian. Kamera mengabadikan beberapa sudut bangunan dari kejauhan.

Berjalan makin mendekat, kamera makin penasaran mengambil beberapa foto bangunan. Bukan kamera yang penasaran, aku yang tertarik mengabadikan bentuk bangunan. Jeprat-jepret disiang hari, tanpa terasa kulit mulai menghitam terpapar sinar matahari. Hari semakin siang, terik matahari makin menjadi. Topi sudah tidak mampu lagi menahan panas yang menuju kepalaku. Peluh keringat sebenarnya sudah sedari tadi membasahi tubuh.

Kiranya cukup aku mengambil foto,pikirku. Pandanganku sekarang beralih mencari teras ruko buat tempat berteduh. Kulihat kekanan dan kekiri. Ada sesuatu yang menarik pandanganku. Dari seberang jalan tepat aku berdiri ada deretan ruko. Disalah satu pintu ruko yangg pintunya masih tertutup rapat tepat didepan kuberdiri ada sepasang bapak-bapak sedang duduk didepannya. Entah memang tertutup atau sengaja ditutup, siapa yang tahu hari semakin siang.

Aku terdiam melihat keduanya yang hanya diam dan duduk bersebelahan. Cukup lama aku mengamati keduanya sampai aku lupa mencari tempat berteduh dari sengatan matahari.
Kemudian aku dan waktu berlalu bersama debu. Waktu tidak mau menunggu, begitu saja dia akan berlalu. Panas yang makin menyengat memaksaku kembali mencari tempat berteduh sambil mengusap peluh…

berfikir

“jaman modern berkembang pegitu pesat
pembangunan terjadi dimana-mana
laju ekonomi begitu cepat
orang sudah terlalu sibuk memikirkan dirinya

mereka yang siap menerima perubahan akan segera menyesuaikan keadaan
untuk  yang belum bisa, mungkin hanya masalah menunggu waktu saja…”