Pagiku di Penanjakan


Riuh perayaan kasada warga suku Tengger semalam masih sedikit terlihat dari atas sini. Lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang menuju dan pulang dari Pura Puten Lautan Pasir menjadi pemandangan menarik. Rangkaian perayaan kasada masih menyisakan satu prosesi yaitu kasuman. Kasuman adalah acara makan bersama suku Tengger di Pura Puten Lautan Pasir. Acara ini dilakukan siang hari setelah pelarungan ongkek-ongkek selesai. Sekitaran pukul 10:00 dan ini merupakan akhir dari seluruh perayaan kasada suku Tengger di Bromo.

Jaket tebal yang aku pakai masih tertembus angin dingin udara Bromo. Sarung tangan yang aku pakai juga tidak banyak membantu. Badan masih terus menggigil. Salah satu temanku sudah lari terlebih dahulu mencari spot untuk mengambil gambar. Aku berjalan pelan menaiki satu persatu tangga. Tempat ini selalu ramai pengunjung sebelum matahari memancarkan sinarnya. Deretan mobil jeep yang parkir sekenanya di jalan sebelum gerbang masuk sedikit memperlihatkan bagaimana ramainya penanjakan pagi ini.
Setelah melewati beberapa mobil jeep. Deretan ruko sebelum gerbang masuk menawarkan kehangatan. Jagung bakar, indomie rebus atau segelas kopi sedikit mengalihkan perhatianku. Sudah dekat pikirku, nanti saat akan pulang aku bisa mampir sebentar untuk segelas kopi dan indomie. Jalan tangga sedikit menanjak telah aku lewati. Di gelapnya pagi aku hanya melihat kepala. Orang-orang ternyata sudah datang jauh lebih dulu ketimbang aku dan teman-temanku. Melihat sudah banyak orang, aku mencoba mencari spot lain supaya bisa menikmati matahari terbit.
Penanjakan adalah tempat wajib yang harus dikunjungi dikala berlibur ke daerah Bromo. Kita bisa menikmati indahnya pagi dengan latar pegunungan Bromo di bawah tempat kita berdiri saat pagi hari. Saat berdiri di tempat ini kita akan melihat semburat warna jingga di sebelah kiri kita perlahan naik.
Sunrise
Perlahan namun pasti tekstur pegunungan Bromo mulai terlihat satu persatu. Lautan awan yang menutupi beberapa puncak pegunungan perlahan bergeser bersamaan dengan mentari yang naik keatas. Kawah Bromo yang tadinya gelap mulai terlihat sedikit demi sedikit. Sejuknya udara bercampur kehangatan sinar mentari telah membuai pagi. Dari balik ranting pohon dan rumput ilalang, sinar mentari menerobos masuk ingin sekedar menyapa.
MentariKokoh tegak berdiri di ujung sana gunung semeru dengan puncak Mahameru nya. Permadani awan perlahan menghilang seiring datangnya sinar mentari yang menyinari. Aku masih terdiam memandang bentangan landscape alam ciptaan Tuhan. Mulut tak berhenti bersyukur atas anugerah dari Yang Maha Kuasa ini.
bromo
penanjakan
Terimakasih Tuhan kau ciptakan pagi dan mentari…
Hari mulai beranjak siang. Saatnya kembali ke penginapan dan packing untuk pulang.
Esok hari kita kembali berjumpa mentari di tempat lain di Indonesia yang indah ini.

Tangga penanjakan