“Numpang” di Banjarmasin


Dingin udara pagi Loksado mengiringiku pergi menuju ke Kandangan dengan taksi lokal. Baru kemarin rasanya sampai di tempat ini. Dan sepagi ini harus meninggalkan Loksado menuju Kandangan disaat yang lain masih terlelap bersama mimpi. Dingin begitu menusuk kulit saat taksi berjalan melibas tikungan-tikungan jalan diantara perbukitan loksado.


Pagi ini aku harus kembali melanjutkan perjalanan menuju Kandangan. Baru berlanjut ke Banjarmasin kemudian. Taksi membawaku melewati perbukitan Loksado yang damai. Rimbun pepohonan dikiri dan kanan jalan membuat udara yang kuhirup pagi ini begitu segar, jauh dari polusi. Kuhirup dalam-dalam udara sepanjang perjalanan. Bau tanah basah bekas hujan tadi malam masih membekas. Bau khas alam nan asri jauh dari polusi.
Entah sudah berapa lama aku memimpikan saat ini. Kembali ke alam pedesaan, menghirup segarnya udara dan bau tanah setelah hujan.

Satu setengah jam telah berlalu. Entah sudah berapa kali hembuhasan nafas yang tidak henti-hentinya menghirup udara alam pedesaan nan asri sepanjang jalan menuju Kandangan. Taksi lokal berhenti didekat sebuah pasar. Dari balik kemudi, bapak sopir memberi tahu bahwa aku sudah sampai di Kandangan. Hari masih pagi, pasar tepat didepanku masih ramai oleh pedagang dan tawar menawar barang. Pasar Kandangan ini adalah pasar tradisional. Dagangan dijajakan dipinggir jalan dengan hanya beralaskan karung plastik atau diletakkan seadanya.

Pasar Kandangan

Seperti pasar-pasar tradisional didaerah-daerah lain. Tidak terlalu ramai kalau aku lihat, atau aku sudah terlambat oleh keramaian pasar tradisional ini. Ah biarkan sajalah pikirku. Aku berjalan menyusuri pasar sampai diujung jalan yang tidak seberapa jauh untuk sebuah pasar rakyat. Diujung jalan aku kembali ketempat awal aku sampai ditempat ini. Melihat waktu yang mulai beranjak siang dan sebelum perut mulai ribut. Berbekal sms dari salah seorang teman di Banjarmasin yang menyarankan untuk mencoba makanan khas daerah Kandangan ini. Aku mulai bertanya ke beberapa orang yang aku temui di sekitar pasar tempat yang dimaksutkan temanku ini. Cukup informasi yang aku dapat, aku lalu menuju tempat yang dimaksut dengan arahan bapak bentor (becak motor) tentunya dengan naik bentornya juga. Daripada sok tahu dan nyasar ya mending cari aman saja dulu.

Bentor melaju menuju tempat mengisi perut yang sudah mulai berisik ini. Dari pasar tradisional tadi kurang lebih 5-10 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai tempat di photo berikut. Warung ketupat inilah yang sedari kemarin diceritakan teman. Menurut cerita tempat ini terkenal sampai kota Banjarmasin yang berjarak 4 jam perjalan darisini.

warung ketupat kandangan

warung ketupat
Inilah makanan khas dan sangat direkomendasikan kalau sedang berada di Kalimantan Selatan dan kebetulan ke daerah Kandangan. Ketupat yang diberi nama seperti nama daerahnya yaitu ketupat kandangan. Wajib dan harus dicoba kalau kebetulan ada waktu dan rejeki jalan-jalan ke Kalimantan Selatan.

Ketupat kaganangan kandangan

Ada beberapa menu lain yang ditawarkan di warung ketupat ini ternyata. Ada ayam goreng dan ayam bakar juga. Tentu yang pertama aku pesan adalah ketupatnya. Selesai mengisi perut, sekarang saatnya beranjak dan segera menuju Martapura mumpung hari masih belum terlalu siang. Dari Kandangan menuju Martapura hanya butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Saatnya mencari ‘tumpangan’ menuju Martapura. Sebenarnya sebelum beranjak dari kursi warung, aku dan temanku sudah merencanakan akan menumpang mobil dari Kandangan menuju ke Martapura. Ada angkutan umum memang dari Kandangan menuju Banjarmasin yang melewati Martapura. Kenapa harus mampir Martapura dulu? alasannya adalah aku sudah janjian sama seorang teman yang dulu kenal waktu melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Selain itu Martapura adalah sentra produksi batu yang terkenal. Sayang sekali kalau cuma numpang lewat tanpa mampir. Kebetulan juga sejalan menuju Banjarmasin.

Kembali ke perbincangan menumpang tadi. Ada satu tantangan dari teman kalau menumpang harus bisa dapat mobil double cabin dan bukan yang lain. Tentu tanpa pikir panjang akupun mengiyakan. Karena sepanjang jalan tempo hari dari Banjarmasin aku melihat mobil double cabin lalu lalang. Awalnya kepikiran dengan cara lama yang paling sering aku pakai untuk mencari tumpangan yaitu dengan modal jempol. Tapi kali ini mencoba cara lain yang juga kadang aku praktekkan ketika menumpang. Kali ini pendekatan langsung dengan orang yang punya mobil. Secara kebetulan sebelum kami akan membayar ke kasir warung. Ada mobil double cabin baru saja parkir didepan warung. Dan amat sangat kebetulan sang empunya mobil atau sopir turun dan sarapan di warung yang sama. Sewaktu masuk ke warung, kami sempat bertatap muka. Ada semacam perasaan yang meyakinkan. Mungkin orang ini bisa dan mau memberi tumpangan. Aku menunda membayar ke kasir warung. Warung yang terhitung sepi di pagi hari memudahkan aku melihat sekeliling dan sesekali melihat orang yang barusan masuk kewarung ini.

Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk memulai berbicara dengan orang yang punya mobil double cabin tersebut. Saat dia selesai menghabiskan makan, aku rasa itu waktu yang tepat. Melihat gerak-geriknya dari tadi aku sudah dapat membaca kalau dia tidak akan lama duduk diwarung ini. Dan benar saja, setelah selesai makan dia langsung menuju meja kasir untuk segera membayar makanan yang telah dia nikmati. Akupun tidak kalah dalam melihat peluang. Sebelum dia beranjak dari meja, aku terlebih dahulu menyelesaikan pembayaran di kasir. Aku juga sudah kembali ke meja menunggu waktu yang tepat. Waktu yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Orang tadi lewat depan meja tempat aku makan. Tidak perlu menunggu lama aku langsung berdiri didepan dia dan mengutarakan niatku untuk menumpang mobilnya.

Niat baik dan sedikit keberuntungan membuahkan hasil. Aku diperbolehkan menumpang mobilnya. Dan tidak butuh waktu lama juga aku langsung ikut naik kedalam mobil menuju ke Martapura. Diperjalan menuju Martapura aku mulai membuka obrolan. Obrolan bermula dari perkenalan dilanjut pertanyaan standart tentang asal, pekerjaan dan setelah itu mengalir begitu saja.

Waktu 2 jam berlalu begitu cepat. Mungkin karena obrolan seru sepanjang perjalanan dari Kandangan menuju Martapura. Sesampai di Martapura kami berpisah. Aku berjanji bertemu dengan teman seperjalanan dulu dan dia harus memacu mobilnya menuju Banjarmasin karena harus mengejar pesawat ke Jakarta. Ucapan terimakasih tidak terhingga untuk tumpangan dan obrolan tentang banyak hal yang akan jadi kenangan manis untuk diceritakan (termasuk di tulisan ini).

Terimakasih Tuhan kau berikan kebaikan hati kepada orang-orang yang kamu sayang…