5 Mei 2012


5 Mei 2012
Jam ditangan sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB, artinya dua jam lagi adalah waktu meninggalkan ibukota. Langkah makin terburu dengan waktu ketika keluar dari pintu kamar kos yang tak lagi rapi. Terlihat teman kos yang baru saja keluar kamar, langsung tanpa basa basi minta tolong buat diantar ke jalan raya.

Naik motor berdua tanpa ragu dengan tujuan yang sudah pasti menunggu. Sampai di perempatan berganti naik angkutan umum menuju ke terminal kalideres yang selanjutnya berganti dengan busway menuju stasiun Pasar Senen.

Sudah tidak perlu ditanya, macet. Alasan klise yang masih saja lazim dipakai untuk menggambarkan keadaaan. Kembali kulihat jam ditangan. Pukul 20.15 WIB sekarang, perut mulai lapar karena belum makan. Tak jauh dari loket karcis dan masih berada dikawasan stasiun, aku berinisiatif untuk membeli segelas hot chocolate dan setengah lusin donat. Lumayan pikirku buat sekedar pengganjal perut.

Pilih sana sini (padahal enam buah donat saja) bungkus dan bayar kekasir. Malam itu baru saja hujan turun lumayan deras disekitar stasiun, tapi tak berlangsung lama. Untung saja tadi sempet naik taksi, karena dipastikan kalau naik busway waktu tidak akan cukup buat sampai ke stasiun ini.

Sekitar 10 menit kemudian terdengar dering telpon dari balik celana. Yang ditunggu datang juga, Ika namanya. Teman perjalanan meninggalkan ibukota kali ini.

Malam itu stasiun tidak terlalu ramai penumpang walaupun itu akhir pekan. Kerumunan penumpang tidak banyak terlihat disana sini. Ah biarkan kataku, mari kita nikmati perjalanan.

Waktu yang ditunggu, kereta berjalan meninggalkan ibukotaku. Bunyi putaran roda kereta, sedikit riuh penumpang, selingan canda tawa akan menjadi teman sepanjang perjalanan.
Banyak hal diperbincangkan sepanjang malam, sampai tak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Lanjutlah perbincangan di alam mimpi masing-masing.

Kutoarjo, 6 Mei 2012

“Masih belum cukup kiranya tidur ini, sinar mentari seolah tak sabar menyapa pagi. Tidak bisa dibohongi lagi, ngantuk masih jadi teman pagi ini. Seolah tak mau kalah, mentari pagi masuk menerobos kaca jendela kereta. Tidak akan kusia-siakan sejuk udara pagi di kota ini. Tanpa polusi layaknya ibukota yang aku tinggali saat ini.”

Kukeluarkan telephon genggam dari saku celana, kukirim pesan singkat kepada teman yang pagi ini berjanji menjemput. Kulangkahkan kaki keluar menuju depan stasiun kereta ini. Duduk-duduk di trotoar depan stasiun sambil sesekali berbincang tentang perjalanan dan pekerjaan. Ika cerita tentang perjalanan panjang yang dia lakukan belum lama ini ke daerah Flores Nusa Tenggara Timur. Aku hanya bisa mendengarkan dan sesekali membayangkan perjalanannya yang sangat mengasikkan. Ah, lupakan tentang perjalanannya sejenak. Ade, teman yang berjanji akan menjemput sudah datang. Mari kita segera bergerak menuju Magelang.

Di perjalanan menuju Magelang kali ini, tidak cuma bertiga apalagi berdua. Kita beramai-ramai ke Magelang. Di stasiun Kutoarjo, kami bertemu rombongan dari Jakarta yang lain. Erin, Rudi, Agiest, Nisa yang ternyata satu kereta tetapi berbeda gerbong denganku dan Ika.

Magelang kami datang…
Sepanjang perjalanan stasiun Kutoarjo menuju Magelang, jalan sangat lengang. Hari ini hari minggu, dan ini bukan ibukota dengan lalu lalang kendaraan tak ramah lingkungan. Sejuk udara masih bisa kita rasakan sepanjang perjalanan. Hijau daun, embun pagi didaun padi, sejuk udara begitu terasa. Terimakasih Tuhan untuk pagi ini.

Di Magelang kami langsung menuju ke salah satu homestay sekitar Candi Borobudur. Yups, Candi Borobudur yang terkenal sampai ke dunia itu. Karena hari ini tanggal 6 Mei 2012 akan diadakan perayaan Waisak disini. Inilah alasan utama kami meninggalkan sesak ibukota. Perayaan peringatan Tri Suci Waisak 2556 BE/2012 akan diadakan di Candi Mendut dan Candi Borobudur.

Sesampainya di homestay, kami bertemu dengan rombongan lain yang sudah datang lebih dahulu. Mereka adalah teman-teman Ade yang sehari sebelumnya jalan-jalan ke pantai di jogja sekitaran Wonosari Gunung Kidul. Kenalan satu persatu lanjut beberes bawaan, mandi, sarapan dan lanjut ke Candi Borobudur melihat prosesi Waisak.

Prosesi Waisak hari ini dimulai dari Candi Mendut. Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah sudah berkumpul sejak pagi di pelataran Candi Mendut untuk menunggu detik-detik Waisak 2556 BE yang jatuh tepat pukul 10.34 WIB. Candi Mendut yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur telah dipenuhi umat Buddha.

Sayang karena kurangnya informasi, kami tidak sempat mengabadikan rangkaian acara di Candi Mendut. Perayaan masih panjang sampai malam hari nanti pikirku. Kami kembali ke komplek Candi Borobudur sambil mencari tempat makan untuk mengisi perut yang mulai lapar. Selesai makan kami masuk ke Candi Borobudur. Mendung mulai datang, gerimis dan hujan tidak lama turun seiring mendung.

Lagi-lagi terlewatlah beberapa prosesi acara didalam area komplek Candi Borobudur karena hujan. Sore hari, kami ke salah satu booth panitia disekitar komplek Candi Borobudur untuk menanyakan acara puncak perayaan kali ini. Kabar baik kami dapat, acara puncak akan diselenggarakan nanti malam di pelataran Candi Borobudur.

Prosesi Waisak akan berlanjut hingga malam hari di kompleks satu Candi Borobudur pada pukul 18.30 WIB. Disana akan ada pembacaan doa yang dilanjutkan ritual Pradaksina mengelilingi candi sekitar pukul 21.00. Acara akan ditutup dengan pelepasan seribu lampion yang menjadi tradisi Waisak di Borobudur sejak beberapa tahun belakangan ini.

Malam selesai makan malam, kami kembali ke komplek candi untuk mengikuti prosesi Waisak selanjutnya. Malam itu banyak sekali media yang meliput. Banyak juga photographer dari berbagai tempat mengabadikan prosesi Waisak. Bunyi jepretan, kilatan flash eksternal kamera terlihat disana sini.

Di puncak prosesi Waisak, lampion mulai di terbangkan satu persatu. Langit diatas komplek candi mulai dipenuhi lampion yang beterbangan ke langit. Teriring doa dari sang pembawa lampion, lampion terbang kelangit seakan menuju nirwana membawa doa.

Dan selesai sudah seluruh prosesi Waisak di Candi Borobudur. Masih ada rasa takjub saat menyaksikan rangkaian prosesi Waisak malam ini. Kita berbeda, tapi kita bisa bersama merayakan Waisak tanpa ada pertengkaran diantara kita. Selamat hari Waisak 2556 BE/2012.


Semoga tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya masih bisa kembali menyaksikan prosesi ini.
Terimakasih Tuhan Kau berikan keberagaman…